Cahyo Alkantana, Ya Doktor Ya Petualang Gua

Cahyo Alkantana, Ya Doktor Ya Petualang Gua
Terpesona Cahaya Surga di Gunung Kidul

Bagi Cahyo Alkantana, takterhitung jumlah gua yangsudah dia jelajahi. Bahkan,dia tak mau kegilaannya itudiganggu oleh pekerjaansebagai pemilik sebuahproduction house Indonesia

Explore yang memasok untuk National Geographic dan TV luar negeri lainnya.

Jika dirunut. Cahyo adalah salah seorang murid dr Robby Ko King TjoenSpKKyangpertama.Pada 1980, dia bersama beberapa pemuda lainnya ikut berkumpul di rumah dr Ko di kawasan . Cisarua, Bogor. Mereka berguru ilmu gua yang sebelumnya digeluti Ko.

"Waktu itu, saya masih SMA," kata Cahyo saat ditemui di Jakarta Jumat lalu (H/2). Ternyata, yang diajarkan oleh Ko tersebut benar-benar diterima dengan baik oleh Cahyo. Buktinya, sejak 2005, Cahyo menggantikan Ko sebagai ketua Himpunan Kegiatan Speleologi (ibnu yang mempelajari segala sesuatu tentang gua) Indonesia (HIKESPI). "Hingga saat ini, saya masih menjadi ketua," imbuhnya.

Postur tubuhnya yang tinggi besarmemang sangat menunjang dirinya untuk menjadi petualang. Kulitnya pun legam, khas orang lapangan yang kerap berjemursinar matahari. Karena itu.jangantanyaprestasi dan kemampuan Cahyo di dunia susut gua.

Doktor marine biology dari Royal University London tersebut tak terhitung berapa kali menyusuri gua, baik di dalam maupun luar negeri. Cahyo tak sekadar keluar masuk gua, tetapi diajuga mencurahkan ilmunya kepada para pegiat susut gua lainny.a.

Cahyo lantas menceritakan, meski sering berkunjung dan menelusuri gua ke luar negeri, dirinya tetap memfavoritkan gua-gua di Wonosari Gunung Kidul. Di antaranya, Luweng (Gua) Jomblang dan Luweng Grubug. Dua gua itu saling berhubungan.

Di dasar Luweng Jomblang yang berdiameter 40 meter dan berkedalaman 60 meter, terdapat hutan purba dengan jenis vege-tasi yang sudah jarang ditemui di permukaan atas.

Nah, dari mulut Luweng Jomblang, terdapatjalan setapak menuju Luweng Grubug yang merupakan vertikal bawah tanah yang terletak 90 meter di bawah permukaan tanah. Diametemya sekitar 12 meter dan sedikit tertutupi dedaunan. Nah, pada jam-jam tertentu, gua itu memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan. Yakni, pada pukul 11.00-pukul 13.00 karenasinar matahari yang menembus ke dalam gua akan membentuk pancaran garis-garis cahaya yang sangat terang. "Orang menyebutnya cahaya surga," kata dia, lantas tersenyum.

Karena terpesona dengan daerah Gunung Kidul yang termasuk kawasan karst atau kawasan baru gamping dan memiliki ratusan gua. Cahyo bertekad membangun dan mengembangkan kasawan tersebut dengan berbasis ekoturisme. Tentu saja tujuannya adalah menambah nilai ekonomi penduduk sekitar. Penduduk sekitar bisa mendapatkan penghasilan. Selain itu, daerah batu gamping tersebut bisa diselamatkan dari penambangan tak terkendali. Sebanyak 4 hektare tanah penduduk dibelinya.

Nah, pendanaan yang dimiliki Cahyo, ternyata, diperoleh dari kegiatan ekstrem juga. Sejak 17 tahun lalu. Cahyo mc\al\ii production house Indonesia Explore yang dimilikinya aktif memproduksi film bawah laut untuk National Geographic dan TV luar negeri lainnya. Hampir semua kehidupan bawah laut di Indonesia pernah dia dokumentasikan. "Saya cari uang dari situ. Hampir semuanya saya dedikasikan untuk caving dan kawasan karts di Gunung Kidul," kata pria yang juga meraih gelar master di Environmental Science Royal Univer-sity, London.

Selain membangun kawasan resor untuk menggaet para turis. Cahyo mendirikan pusat pelatihan caving di sana. Setiap dua tahun sekali Hikespi menggembleng para pencinta susur gua dengan skill dan tingkatan paling tinggi.

Lebih lanjut Cahyo menceritakan perkembangan caving di Indonesia, terutama dalam naungan Hikespi. Menurut dia, Hikespi yang berdiri sejak 23 Mei 1983 adalah sebuah federasi susut gua yang menaungi para pegiat susut gua dari semua organiasi kepecintaalaman dan kepetualangan di seluruh Indonesia.

Memang mayoritas yang berhubungan dan menimba ilmu di Hikespi adalah mahasiswa yang tergabung dalam kelompk pencinta alam di kampusnya Nah. para mahasiswa yang ingin menekuni caving dan lolos menempuh tahap-tahap seleksi yang diadakan para instruktur Hikespi di beberapa daerah berhak mendapatkan pendidikan lebih lanjut di pusat pelatihan dan pendidikan Hikespi di Gunung Kidul.

Di sana mereka akan digembleng Hikespi untuk menjadi penelusur gua profesional. "Setelah lulus, dia dianggap sebagai instruktur dan kembali disebar ke daerah untuk mencari bibit-bibit baru." kata dia. Hingga kini, lanjut lanjut Cahyo Hikespi telah mencetak sekitar 200 instruktur caving yang sekarang tersebar di seluruh Indonesia. (*)